Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, June 3, 2015

Seputar Bulan Sya'ban

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...

Bulan Sya'ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan.

Keistimewaan Bulan Sya'ban

Sya'ban
Mengenai bulan Sya'ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya'ban. Kemudian Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Bulan Sya'ban - Bulan antara Rajab dan Ramadhan - adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan." (HR. An-Nisa'a no.2359. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,
"Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, 'Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai'." (HR. Muslim no. 2565)

Keistimewaan Malam Nisfu Sya'ban

Nisfu Sya'ban
Malam nisfu Sya'ban(malam 15 Sya'ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya'ban memiliki keistimewaan dari bulan lainnya?
Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya'ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Diantara hadits dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam nifsfu Sya'ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan."
Al-Mundziri dalam buku At-Targrib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, "Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam Al Shahihnya dan juga oleh Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy'ri. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang tidak mengapa." Demikian perkataan Al Mundziri.
Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, "Pada sanad hadirs Abu Musa Al-Asy'ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi'ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha'if."
Hadits lainnya lagi adalah hadits 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Allah 'azza wa jalla mendatangi makhluk-makhluk-Nya pada malam nisfu Sya'ban , Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecualu dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa."
Nisfu Sya'ban
Al Mudziri mengatakan, "Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat)." Berarti hadits in bermasalah.
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, "Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya'ban. Wallahu Ta'ala a'lam."
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, "Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya'ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendha'ifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau memasukkan dalam kitab shahihnya." (Lathaif Al-Ma'arif, hal. 245)
Intinya, penilaian kebanyakan ulama, keutamaan malam nisfu Sya'ban dinilai dha'if. Namun sebagian ulama menshahihkannya.

Amalan di Malam Nisfu Sya'ban

Amalan Nisfu Sya'ban
Taruhlah hadits keutamaan malam nifsy Sya'ban itu shahih, namun bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam tersebut dengan shalat jama'ah atau membaca Yasin atau do'a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Jika tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada.
Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya'ban, namun shalat tersebut cukup dilakukan sendiri. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, "Mengenai shalat malam di malam nisfu Sya'ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi'in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam nisfu Sya'ban dengan shalat."
Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat nisfu Sya'ban, beliau rahimahullah menjawab, "Jika seseorang shalat pada malam nisfu Sya;ban sendiri atau berjama'ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, itu sesuatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka'at,  membaca surat Al-Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali,ini jelas suatu perkara bid'ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama." (Majmu' Al Fatawa, 23: 132)

Malam Nisfu Sya'ban Sama dengan Malam Lainnya?

Nisfu Sya'ban
Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya'ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya'ban. 'Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya'ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, "Wahai orang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya'ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malah (bukan pada malam nisfu Sya'ban saja)." Dikeluarkan oleh Abu 'Utsman Ash Shobuni dalam I'tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al 'Aqili rahimahullah mengatakan, "Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya'ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya'ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah." Disebutkan dalam Adh Dhu'afa' (3/29).

Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya'ban

Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban. 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Segera Lunasi Hutang Puasa Ramadhan di Bulan Sya'ban

Bagi yang punya hutang puasa Ramadhan, segera dilunasi karena bulan Sya'ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dari Abu Salamah, beliah mengatakan bahwa beliau mendengar 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan, "Aku masih memiliki hutang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho'nya kecuali di bulan Sya'ban." Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan 'Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Perbanyak Amalan Bacaan Al-Qur'an di Bulan Sya'ban

Salamah bin Khalil berkata, "Dahulu bulan Sya'ban disebut pula dengan bulan Membaca Al-Qur'an." 'Amir bin Qois ketika memasuki bulan Sya'ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al-Qur'an. Abu Bakar Al Balkhi berkata, "Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya'ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil."

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Semoga Bermanfaat. :)

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...

Sumber : Diambil dari Timeline Dakwah Islam Line (id : @dakwahislam1) ; Gambar diambil dari Searching di Google

Monday, July 28, 2014

Apakah Silaturrahim Itu?

Sebelum merujuk ke masalah makna dari Silaturrahim itu sendiri, mari kita tinjau darimana asal kata silaturrahim ini terlebih dahulu karena ada perbedaan pengucapan dan penulisan yang menunjukkan perbedaan arti dari kata "Silaturrahim".
Secara tinjauan bahasa arab, kata “Silaturrahim” ditulis dengan [صِلَةُ الرَّحِمِ]. Jika kita beri harakat lengkap, cara membacanya: Silaturrahimi. Jika kita pecah, terdiri dari dua kata: silah, [arab: صِلَةُ] yang artinya hubungan dan rahim [arab: الرَّحِم] artinya rahim, tempat janin sebelum dilahirkan. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita.
Istilah silaturrahim di tengah-tengah masyarakat kita sering diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa, saling menolong, dan saling berbuat kebaikan. Namun, sesungguhnya bukan itu makna silaturahim sesungguhnya. Silaturrahim bukan hanya ditandai dengan saling berbalasan salam tangan atau memohon maaf belaka. Silaturrahim juga bermakna menghubungkan mereka yang sebelumnya terputus hubungan atau interaksi, dan memberi kepada orang yang tidak memberi kepada kita. Dan juga silaturahim ditandai dengan hubungan dengan hati, yakni keluasan hati. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw, bahwa beliau bersabda,
"Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus".
(HR Bukhari)

Keutamaan Silaturrahim

Silaturahim merupakan salah satu kewajiban bagi setiap pribadi Muslim. Dalam Alquran, Allah menegaskan,
“Dan bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta dengan nama-Nya dan sambunglah tali silaturrahim.". (QS. An-Nisa Ayat 1)
“Sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturrahim, dan shalatlah ketika manusia tidur (tahajud) niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak akan masuk surga pemutus tali silaturrahim.”
Berdasarkan dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa silaturrahim memiliki keutamaan dan keistimewaan, yaitu :
  • Pertama, dengan silaturrahim, kita bisa saling mengenal antara yang satu dan yang lainnya (QS Al-Hujurat Ayat 13). Dengan silaturrahim, kasih sayang dan kerja sama yang positif bisa diwujudkan.
  • Kedua, dengan silaturrahim, persatuan dan kesatuan (ukhuwah Islamiah) akan dapat dibangun. Dengan silaturrahim, akan timbul rasa saling membutuhkan, solidaritas, dialog, pengertian, dan menguatkan kerjasama dalam perjuangan yang kokoh.
  • Ketiga, dengan silaturrahim, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat akan mudah diatasi. Baik masalah ekonomi, pendidikan, kebudayaan, maupun lainnya.
  • Keempat, silaturrahim juga akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan horizontal yang terjadi di masyarakat. Sebab, dengan mengedepankan kasih sayang, sikap emosional dalam diri umat yang bisa memicu permusuhan dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian, akar persoalan pun akan ditemukan dan bisa diselesaikan dengan damai.
  • Kelima, dengan silaturrahim, berbagai ide-ide dan gagasan yang brilian, inovasi-inovasi, program-program, dan kegiatan-kegiatan yang positif juga bisa diwujudkan ketika umat islam berkumpul dalam kasih sayang dan semangat kebersamaan. Dan sesungguhnya, kejayaan umat Islam di masa lalu berawal dari silaturrahim.
  • Keenam, dengan silaturrahim, akan banyak ilmu pengetahuan yang tersebar. Dengan demikian, akan banyak pula ilmu dan wawasan yang bisa diserap darinya. Dari sini diketahui bahwa silaturrahim menjadi media menumbuhkan wawasan persatuan dan kesatuan.

Keutamaan Lain dari Silaturrahim

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan,
"Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahim" (HR Bukhari Muslim).
Di hadis lain diterangkan bahwa "Sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memanjangkan silaturrahim", dengan uraian sebagai berikut :
  1. Silaturrahim bermaksud menyambungkan tali persaudaraan atau kasih sayang, mengeratkan kembali rasa kecintaan serta menjaga keutuhan persaudaraan yang telah terbina terhadap saudara, kerabat, teman dan sebagainya.
  2. Membina dan mengeratkan silaturrahim adalah merupakan satu tugas dan tuntutan yang wajib di sisi Islam di mana Rasulullah s.a.w amat membenci golongan yang suka memutuskan hubungan persaudaraan sesama manusia sebagaimana sabda baginda yang maksudnya: Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan) hubungan dengan saudaranya melebihi tiga hari.
  3. Mewujudkan silaturrahim bukan sekadar membawa maksud menyambung kembali ikatan persaudaraan yang telah retak atau memulihkan semula ketegangan dalam perhubungan malah ia membawa erti yang lebih luas lagi iaitu membina kemesraan dan keakraban dengan sesiapa sahaja menerusi sifat saling membantu, bertolak ansur dan sebagainya.
  4. Biasanya puncak permasalahan dan gejala keretakan persaudaraan didahului dengan pertengkaran dan saling menjauhkan diri. Maka adalah menjadi kewajipan bagi seorang muslim yang lain mengajak saudaranya yang bertelagah itu ke jalan perdamaian sama ada dengan cara mendatangi, menyapa atau memberi salam serta diikuti dengan ucapan meminta maaf.
  5. Seseorang yang sedang berada dalam suasana tegang (perselisihan faham) hendaklah membanyakkan sabar dan bersikap terbuka serta mengalah untuk meminta maaf atau memaafkan orang lain. Jangan bersikap sombong dan angkuh serta menganggap diri sentiasa benar atau betul kerana inilah punca terjadinya keretakan hubungan yang berterusan. Sesungguhnya dosa sesama insan hanya boleh dimaafkan oleh manusia itu sendiri dan bukanlah boleh diampunkan oleh Allah S.W.T.

Terdapat Dosa Besar Bagi Pemutus Silaturrahim

Melihat, membaca dan memahami keutamaan dan keistimewaan silaturrahim pantaslah jika seseorang memutuskan silaturrahim akan mendapat dosa besar. Silaturrahim memiliki fadhilah yang mustajab untuk mendatangkan kebaikan, bahkan keburukan bila memutuskannya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasul saw,
"Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? ‘Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,’ sabda Rasulullah SAW, ‘adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).
Betapa pentingnya silaturrahim dalam hubungan sesama manusia, Rasulullah saw berpesan dalam sabdanya,
“Sayangilah apa yang ada di muka bumi, niscaya Allah dan semesta alam akan menyayangimu” (H.R Tirmidzi)

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Semoga kita bisa meraih surga Nya dengan membina silaturahim antar sesama. Saya akhiri sekian, mohon maaf bila ada kesalahan. Salam Blogger Indonesia! :)